Republik Rakyat China sebagai Negara Komunis yang “Berhasil”

            China adalah negara raksasa industri modern yang ada di Asia. Terletak di Asia Timur dengan wilayah luas dan jumlah penduduk yang padat, membuat negara ini menjadi rival terberat Amerika Serikat dalam dekade akhir ini. Banyak produk-produk asal China yang merajai pasar internasional, khususnya di Indonesia. Dari peralatan elektronik, mesin-mesin pabrik, alat transportasi, perkakas dapur, mainan anak-anak, hingga pakaian pun, semua made in China.

Gambar 1. Pemandangan salah satu kota di China dengan berbagai gedung pencakar langitnya.

Jika kita tinjau lebih dalam, negara dengan nama asli Republik Rakyat China ini menganut ideologi komunisme yang diajarkan oleh Karl Marx dan Friederich Engels. Walaupun komunisme sendiri lebih cenderung sebagai gerak perlawanan pekerja dan petani atas penindasan kapitalisme, namun mengapa justru di China program-program industrialisasi bergerak pesat?

Republik Rakyat China tumbuh menjadi negara berbangsa Asia setelah Jepang yang benar-benar mampu menyaingi negara-negara barat yang dianggap lebih maju. Jika Jepang bangkit dalam pertumbuhan teknologinya, China tumbuh berkembang sebagai raksasa ekonomi. Hal ini bukanlah suatu keberuntungan semata, melainkan sebuah proses perjuangan bersama antara rakyat, pemerintah, dan industri yang sama-sama memiliki kesadaran untuk memajukan kesejahteraan bersama.

Pasca menhapuskan paham-paham lama melalui program Revolusi Kebudayaannya yang digagas oleh Mao Tse Tung, rakyat China mulai menghapuskan berbagai takhayul lama mereka mengenai nilai-nilai elitist para negarawan mereka. Kemudian disambung pula oleh reformasi Deng Xiaoping yang membuat rakyat, pemerintah, dan industry bersama-sama membangun Republik Rakyat China yang lebih modern dan percaya diri terhadap dunia global, sehingga dapat memajukan negaranya seperti sekarang. China bertransformasi menjadi sebuah komunitas masyarakat baru yang mandiri, komunitas pekerja keras demi menjadi bangsa pemenang dalam kancah global yang dihormati oleh seluruh bangsa di dunia.

Jika kita tinjau kembali proses evolusi masyarakat menurut Karl Marx dan Friederich Engels, terdapat tahapan feodalisme dan kapitalisme sebelum menuju sosialisme dan komunisme, dan dalam proses tahapan tersebut, perlu dilakukan pula pengawasan yang dilakukan oleh dictator proletariat. Uni Soviet selaku negara pertama yang berideologi komunisme, mencoba langsung menerapkan tahap sosialisme dalam negaranya, pasca revolusi Oktober 1918 setelah menumbangkan kekuasaan Kekaisaran Rusia. Ini berarti, Uni Soviet yang diproklamirkan oleh Vladimir Lenin melangkahi tahapan yang telah dijabarkan Karl Marx dan Friederich Engels dalam teori evolusi masyarakat. Pasca bubarnya rezim Kekaisaran Rusia yang menganut sistem feodalisme, Vladimir Lenin memaksakan diri agar negaranya langsung menuju tahap sosialisme tanpa terlebih dahulu melewati tahap kapitalisme. Sehingga, pada tahun 1980 an terjadi korupsi besar-besaran yang dilakukan oleh para elit pemerintah dan elit Partai Komunis Uni Soviet yang menyebabkan negara tersebut bubar di tahun 1990.

Republik Rakyat China menerapkan ajaran Karl Marx dan Friederich Engels secara teliti hingga akhirnya dapat dikatakan sebagai negara komunis yang “berhasil” menyejahterakan rakyatnya. Dimulai dari direbutnya kekuasaan negara oleh Mao Tse Tung melalui Partai Komunis China, sehingga ini berarti diktator proletariat mulai memegang kekuasaan. Kemudian diikuti oleh Deng Xiaoping yang memberlakuan kapitalisme dalam negeri yang tentunya diawasi oleh pemerintahan yang dipegang oleh diktator proletariat. Kebijakan ini bukan berarti Republik Rakyat China menyerahkan diri sepenuhnya pada sistem kapitalisme global, Deng Xiaoping justru hendak menciptakan sistemnya sendiri, yakni Kapitalisme Rakyat.

Gambar 2. Bendera Republik Rakyat China. 1 bintang besar melambangkan Partai Komunis China, sedangkan 4 bintang lain berarti petani, buruh, borjuis kecil, dan kapitalis yang patriotik.


Kapitalisme Rakyat sendiri membuat kesadaran rakyat untuk bekerja menjadi terbangun, sehingga rakyat pun dapat memenuhi kebutuhannya masing-masing, hingga membuat kontribusi yang besar bagi negaranya, termasuk pula terhadap negara-negara lain. Hal ini terbukti pada kredit tanpa bunga yang diberikan oleh Republik Rakyat China terhadap negara-negara berkembang di dunia. Rakyat yang tersadar sedang berada pada tahap Kapitalisme, ditambah pula oleh pengawasan dari sang dictator proletariat melalui Partai Komunis China yang tunggal, membuat Republik Rakyat China benar-benar telah memahami alam pemikiran Karl Marx dan Friederich Engels secara tepat, sekaligus juga membuatnya menjadi raksasa komunis modern pada masa kini. 

“Dengan sejumlah kecacatan yang dimilikinya, membuat kontradiksi-kontradiksi internal di dalamnya semakin lebar. Sehingga, Kapitalisme dapat runtuh dengan sendirinya”

Komentar